KOLAKA, MNN.COM – Organisasi Masyarakat Tamalaki Sultra Melongga Moronene (TSMM) sukses menggelar Pendidikan Dasar (Diksar) Ke-I di Desa Peoho, Kecamatan Watubangga, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Minggu, 20/09/206).
Kegiatan yang menjadi tonggak awal pengkaderan ormas adat ini berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan selama dua hari, Sabtu – Minggu, 19-20 September 2026.
Diksar perdana ini diikuti oleh 57 orang peserta putra-putri terbaik dari rumpun Tolaki-Mekongga dan Moronene yang berasal dari Kolaka dan Bombana. Kegiatan dipusatkan di daerah Desa Peoho dan dibuka langsung oleh Mokole Amiruddin Dewan Pembina Tamalaki Sultra Melongga Moronene dengan prosesi adat Mombesara sebagai simbol penghormatan kepada leluhur dan restu kepada para kader baru.
Ketua Umum Tamalaki Sultra Melongga Moronene, Asri Joni, dalam sambutannya menegaskan bahwa Diksar ini bukan sekadar ajang rekrutmen, melainkan kawah candradimuka untuk membentuk karakter kader yang beradab, beradat, dan bermartabat. Menurutnya, Tamalaki harus menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah adat dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam menjaga Kamtibmas di Bumi Sultra.
Selama pendidikan dasar, peserta dibekali materi keorganisasian, wawasan kebangsaan, sejarah dan filosofi adat Tolaki-Mekongga dan Moronene, serta pemahaman tentang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi. Selain materi indoor, peserta juga digembleng dengan materi fisik, kedisiplinan, wawasan bela negara, dan uji mental di alam terbuka sebagai bentuk pembentukan jiwa korsa dan militansi adat.
Filosofi adat Tolaki yang menjadi landasan gerakan ini kembali ditegaskan dalam Diksar tersebut, yakni Inae Konasara Iee Pinesara, Inae Liasara Iee Pinekasara yang artinya siapa yang menghormati adat maka ia akan dihormati, siapa yang melanggar adat maka ia akan diberi sanksi adat. Nilai tersebut diharapkan menjadi pedoman hidup bagi setiap kader Tamalaki dalam bermasyarakat.
Salah satu peserta Diksar, Irfan asal Desa Wolo, mengaku sangat antusias dan bangga bisa bergabung. Ia menyebut kegiatan ini membuka wawasan tentang pentingnya menjaga identitas sebagai anak adat di tengah arus modernisasi. “Kami diajarkan bukan untuk menjadi preman, tapi menjadi penjaga adat yang santun dan berpendidikan,” ujarnya.
I Wayan Kampiasa selaku Kepala Desa Peoho bersama tokoh adat Moronene setempat memberikan apresiasi penuh atas terpilihnya Desa Peoho sebagai tuan rumah Diksar perdana. Menurutnya, kehadiran ormas Tamalaki Sultra Mekongga Moronene sangat positif untuk menggerakkan pemuda agar lebih mencintai budaya dan turut serta dalam pembangunan Desa. Aparat TNI dan Polri setempat juga turut memantau kegiatan yang berjalan aman dan kondusif.
Dengan suksesnya Diksar Ke-I ini, pengurus pusat Tamalaki Sultra Melongga Moronene menargetkan akan melanjutkan pengkaderan secara berjenjang di seluruh wilayah Sultra. Diharapkan, kader yang telah dilantik dapat menjadi contoh dan pelopor pelestarian adat Moronene dan Mekongga, serta mampu bersinergi dengan pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk kemajuan Sulawesi Tenggara.(Ramadan)





